Oh..

Seorang ibu di dalam pasar
Bukan untuk membeli beras
Tapi
Untuk menjual bayinya yang masih merah
Sebab
Harga beras terlalu tinggi
Untuk dimasak menjadi nasi

Seorang gadis duduk termangu
Dibawah tiang lampu jalanan
Berseragam ia disana
Bukan menunggu jemputan sekolah
Tapi
Menunggu dibeli kemaluannya
Sebab
SPP telah menunggak
Ujian sudah dekat

Seorang bapak dipentung massa
Kedapatan mengambil susu kadaluarsa
Disakunya terselip selembar surat PHK
Dengan tandatangan yang masih basah

Di ibukota
Ramai orang berdasi
Rambutnya licin wangi sekali
Kerjanya mengoceh janji berkali-kali
Ia dewan mewakili kami
Masuk tidur
Tak masuk pun digaji

Di sebuah pabrik seorang buruh mati
Istrinya terpekik nangis menyayat hati
Anak gadisnya terpekur pucat pasi
Mati tak mati
Mereka tetap jarang makan nasi

Oh..
Ini negeri ngeri sekali
Mau makan jual harga diri
Bayi-bayi nya kurus, kurang gizi
Sebab pemimpinnya seperti gergasi

Oh..

Satu Mei Kita Berpesta

Satu Mei kita bertemu
Saling menggenggam tangan
Tangan kananmu kusambut dengan tangan kiri
Dan kita bergandengan dibawah moncong senjata

Buang segenap takut
Simpan semua perkakas
Mari berdendang Teman
Hari ini kita berpesta

Menyimpan palu untuk satu hari
Mengistirahatkan pikiran untuk satu hari
Menyumbat pori-pori tak berkeringat
Hari ini kita berpesta

Hari ini kita berpesta Teman

Undang Temanmu
Teman dari teman-temanmu
Teman-teman dari teman-temanmu
Semua berkumpul Teman
Hari ini kita berpesta

Singsingkan semua lengan baju
Kita berpesta hanya sehari
Menjauhi suara mesin dan deru di pabrik
Hari ini kita berpesta

Mari bernyanyi lagu kebebasan
Mari berdendang tentang kemenangan
Mari berdansa dengan penuh kepuasan
Teman, Hari ini kita berpesta.

Aku Seorang Guru

Aku adalah seorang guru
Anakku diajari oleh seorang guru
Kelak ia akan menjadi guru
Akan mengajari anak-anak guru

Kamu seorang Presiden
Kamu seorang Menteri
Dan kamu belajar dari seorang guru
Guru sepertiku

Aku mengajarimu untuk menjadi hebat
Menjadi mengerti dan memahami kondisi
Termasuk kondisiku
Seorang guru

Ribuan kali aku mengajar
Aku tetap menjadi guru
Aku tak menjadi Presiden
Aku tak menjadi Menteri

Aku tetap menjadi guru
Mengajari anakmu dan anak dari anak-anakmu
Dan kamu

NB: Kutujukan kata perkata ini untukmu Ibunda yang masih mengajar di usia yang ke 53. Selamat Hari Pendidikan yang sekaligus menjadi Milad bagimu. Baktiku untukmu selalu.

UAN = Ujian Aneh Nasional

UAN jika diartikan sebagai Ujian Aneh Nasional ternyata cukup pas.

Logika yang sangat aneh ketika kita membahas soal dunia pendidikan di Indonesia yang dijalankan dengan cara yang aneh dan antik. Miris sekali ketika kita melakukan pembahasan mengenai bagaimana sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) dijalankan. Sementara banyak orang yang dalam kesehariannya nyaris tak peduli dengan apa itu ujian dan pendidikan Continue reading

Ngeri Ah..!!

Negeriku ngeri
Bayi-bayi mengantung pada puting ibunya yang kemarau
Sebab susu tak lagi menyuburkan

Negeriku ngeri
Tanahnya ditanami padi
Dengan gedung-gedung tinggi

Negeriku masih ngeri
Hutannya ranggas
Ibarat supermarket
Ada label harga pada pohonnya

Negeriku semakin ngeri
Pulau subur makmur dianggap sepi
Seperti Pulau Padang yang tak dianggap lagi

Ah, negeriku yang ngeri
Tuan Presiden kami tak pula peduli
Lelah bernyanyi lagu sumbang
Ganti bernyanyi lewat burung kenari, ngeri

Mari Makan Malam Tuan Presiden

Mari makan malam Tuan Presiden
Dengan sendok perakmu
Dan
Aku menggunakan tangan
Dengan daging-daging empuk
Dan aku dengan tempe busuk
Yang kutemukan dipembuangan sampah
Dibelakang pasar
Dengan air minum jernih
Yang didalamnya tampak wajah-wajah lunglai
Berkeringat
Melenguh seperti sapi yang kelelahan membajak sawah
Untuk beras yang bahkan tak pernah kau cicipi

Selamat makan malam Tuan Presiden

Pawang

Berhembuslah rerintik angin yang bertiup hujan bersemedi dikegelapan malam, hening menusuk matahari memecah sinarnya menyengati kulit-kulit rumput
Lembut menggayut hay mengusir puntir angin kencang membelah awan yang dibuang sepi jauh melabuhkan riuh pada gemerlapan bintang sunyi yang terbakar dengki melarat rat rat rat rat..

Aku tak bisa menyembunyikan wajah lara kelaparan
Aku tak bisa mendiamkan gemuruh badai kala periukku dipecahkan ribuan derap sepatu laknat yang menginjak-injak harga diri hingga rata dengan tai
Aku tak bisa menghentikan gelombang air mata yang menerobos pertahanan iman yang diterkam angka upeti para kawula kepada raja dan raja jumawa tertawa ha ha ha ha ha sementara para kawula berebut arit dengan kehidupan yang morat marit

Oooo para raja
Oooo para raja
Oooo para raja

Akulah kawula yang berebut sepah dibalik periuk pecah yang kau injak-injak-injak-injak-injak
Akulah kawula yang meregang nyawa bersama bayinya yang terlahir dengan membawa angka-angka
Akulah kawula yang kelaparan dilumbung padi kaya raya
Aku

Gegap gempita langit-langit runtuh
Gegap gempita langit-langit runtuh
Gegap gempita langit-langit runtuh
Gegap gempita langit-langit runtuh
Gegap gempita langit-langit runtuh
Gegap gempita langit-langit runtuh
Gegap gempita langit-langit runtuh
Gegap
Gempita
Langit
Langit
R U N T U H